Bupati Simon: Berpolitik Itu Jangan Munafik

oleh -460 Kali Dibaca
Tampak Bupati Simon Saat Tiga Media Cetak, Di Resto Nelayan

Kupang, Mensanews.com- Bupati Malaka, Dr. Simon Nahak, S.H., M.H., menekankan setiap manusia punya sikap politik dan mempunyai pilihan politik. Itulah realita yang terlihat di tengah masyarakat. Tantangan yang paling berat juga dalam berpolitik adalah meninggalkan sifat kemunafikan. Tahu, tetapi berpura-pura tidak tahu.

“Ciri-ciri orang munafik ada tiga: Pertama, apabila ia berbicara ia berdusta. Kedua, jika berjanji ia mengingkari. Dan, ketiga, bila dipercayai ia berkhianat.”

Berpolitik itu jangan munafik. Sebelum mendapatkan jabatan berjanji membela rakyat tetapi kenyataan tidak demikian. Selagi duduk di kursi empuk ternyata memikirkan apa yang dapat diraup. Sungai mana yang dapat dikeruk. Gunung mana yang dapat ditumbuk. Ternyata, masih banyak jalan mencari keuntungan.

Ketika dipercaya sebagai Pemimpin, Bupati Simon berpesan tuntaskan tugasmu dengan baik. Jangan bersemangat melayani karena ada fee (komisi) dibalik itu. Ada atau tidak ada fee layani dengan tulus. Kepercayaan yang diberikan cuma sekali, sebelum penyesalan tiba.

Waktu ini tidak terlalu lama. Hidup di dunia sementara. Waktu untuk jabatan politik cuman lima tahun, itu tidaklah lama. Kenapa mulai berebut minta jatah kekuasaan jika tidak mau dan tidak mampu berbuat baik untuk rakyat.

Mengapa ingin menjadi pejabat, jika diyakini tidak mungkin dilakukan. Gerak cepat eksekusi anggaran karena ada imbalan, hal itu yang dilakukan. Rakyat sudah pintar mudah-mudahan tidak dibodohkan lagi. Media online bertaburan siap melumat dalam pemberitaan

Politik itu jangan munafik. Segala sesuatu yang didahului dengan kemunafikan akan berakhir tragis. Kemunafikan tentunya dapat menutup pintu hati Nurani. Hal ini dikatakan Bupati Malaka Dr. Simon Nahak, S.H., M.H., saat bertemu dengan media cetak; pos Kupang, timex dan victory News yang diprakarsai oleh Yohanes Klau (Plt. Dinas Pendidikan dan Kabid Kominfo Malaka)

Berpolitik itu hak bagi semua manusia. Siapapun yang ingin berpolitik, tidak ada yang bisa menghalangi. Berbicara politik erat kaitannya dengan kekuasaan. Maka kekuasaan itu bukan untuk membanggakan diri, dan keturunan. Kekuasaan itu bukan untuk disalahgunakan.

“Kemunafikan memberangus hati nurani. Kemunafikan membuat orang lupa akan dari mana identitas dirinya. Kemunafikan bisa membuat orang hidup dalam bayang-bayang dirinya. Padahal semua orang di dunia ini ingin tampil apa adanya”, ujar Bupati Simon

Menurut Bupati Simon, kemunafikan bisa timbul dari diri seseorang dengan berbagai sebab. Sebab, ingin tampil sempurna, banyak uang atau kaya dan senang pada pujian bagi dirinya.

Ingat, berpolitik itu tahu menempatkan diri karena rakyat lebih pintar daripadanya. Jangan memaksakan diri menjadi calon gubernur, bupati/wali kota, Kepala Dinas jika tak mampu melayani dengan tulus.

Lihat kemampuan diri. Apakah mampu membangun komunikasi politik dengan rakyat sendiri dengan mahir dan baik? Mampu mendesain dan membangun daerahnya yang memiliki khas tersendiri, tidak hanya “mengimitasi” dari daerah orang lain, yang mungkin tidak sesuai dengan keadaan daerahnya. Percaya diri boleh-boleh saja. Tapi, jangan hanya mengandalkan kemampuan orang lain. Bercermin dengan baik. Pahami kemampuan diri. Ini bukan main-main

Ada orang yang belum mampu menjadi pemimpin, namun tetap memaksakan diri untuk memimpin. Ia dibesar-besarkan oleh kelompoknya saja. Untuk menjadi pemimpin rakyat membutuhkan proses, tidak terjadi begitu saja. Belum cukup dengan mengandalkan popularitas diri. Apalagi lagi mau memimpin karena manfaatkan kedekatan keluarga.

“Inilah akan terjadi bentuk kemunafikan seseorang dalam berpolitik. Menganggap dirinya mampu padahal belum tentu. Kemampuan seseorang membangun komunikasi dengan masyarakat juga menjadi bagian yang penting untuk menjadi pemimpin”, ungkap Bupati Simon. (Oll)

No More Posts Available.

No more pages to load.